Hari Kedua SAJ Praktik SMAN 1 Kepohbaru: Dari Uji Fisik MFT hingga Megahnya Kolaborasi Budaya Jawa
KEPOHBARU, BOJONEGORO – Semangat membara terus menyelimuti siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kepohbaru dalam kelanjutan Sumatif Akhir Jenjang (SAJ) Praktik hari kedua. Jika hari pertama didominasi oleh kreativitas digital, hari kedua ini menjadi ajang pembuktian ketahanan fisik serta pelestarian akar budaya melalui kolaborasi seni yang memukau.
Gambar 1: Pementasan dramaDi lapangan utama, konsentrasi dan stamina siswa diuji melalui mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (Penjasorkes). Guru penguji menerapkan Multistage Fitness Test (MFT) atau yang sering dikenal dengan Beep Test untuk mengukur kapasitas aerobik maksimal ($VO_2$ max) siswa.
Diiringi suara sinyal beep yang semakin cepat, para siswa tampak gigih berlari bolak-balik sesuai ritme untuk menunjukkan level kebugaran terbaik mereka. Ujian ini bukan sekadar mengejar nilai, namun juga menjadi parameter kesiapan fisik siswa sebelum mereka lulus dan menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau memasuki dunia kerja.
Gambar 2: MFT PenjasorkesPanggung Budaya: Kolaborasi Epik Seni Budaya dan Bahasa Jawa
Kemeriahan hari kedua terjadi di sisi lain lapangan. Sebuah pertunjukan yang layak disebut "Epik" tersaji berkat kolaborasi apik antara mata pelajaran Seni Budaya dan Bahasa Jawa.
Ekspresi Tanpa Batas dalam Seni Budaya:
Mata pelajaran Seni Budaya memberikan ruang seluas-luasnya bagi siswa untuk mengekspresikan diri. Melalui gerak tari, tata panggung, dan penjiwaan karakter, siswa menampilkan pertunjukan yang dramatis dan penuh estetika, mengubah ruang ujian menjadi panggung teater yang hidup.
Bahasa Jawa: Melestarikan Warisan Lewat Pameran:
Sinergi ini diperkuat dengan pendalaman filosofi dari mata pelajaran Bahasa Jawa. Siswa tidak hanya sekadar tampil, namun juga diwajibkan memahami tradisi seni serta menyajikan makanan tradisional Jawa. Setiap kelompok mempresentasikan makna di balik kuliner yang mereka bawa, mulai dari bahan baku hingga keterkaitannya dengan tradisi lokal di Bojonegoro dan sekitarnya.
"Kolaborasi ini bertujuan agar siswa tidak hanya pandai berkesenian, tetapi juga memiliki unggah-ungguh dan pemahaman mendalam tentang jati diri mereka sebagai generasi muda Jawa," ujar Bu Wulan, salah satu guru penguji kolaborasi tersebut.
Kegiatan SAJ Praktik ini dijadwalkan masih akan berlanjut dengan agenda-agenda inovatif lainnya yang diharapkan mampu memotivasi siswa untuk terus berkarya hingga akhir masa studi mereka di jenjang SMA. (Tim Digi)


Komentar
Posting Komentar